Mendoakan Khatib Jum’at agar Mendoakan
Wednesday, 9 June 2010 Leave a Comment

Ada perang panjang di Palestina, Kashmir, Afghanistan, dan Filipina Selatan
Beratus-ribu perempuan, lelaki, dan kanak-kanak digilas penderitaan
Di atas Baghdad pesawat pembom menderu berminggu-minggu
Membuat puing dan kawah di tengah kota, mencecerkan bahan mesiu
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka
Tak kudengar qunut nazilah dibacakan imam pada raka’at kedua
….
Berjuta penduduk miskin dicekik permainan judi
Beribu warung menderetkan beratus-ribu botol alkohol
Saudara kita yang tak berpunya semakin tertelungkup miskin
Mereka bukannya pemalas, cuma sempit dalam rezeki
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Tak kudengar khatib mendoakan mereka
….
Berbulan ekonomi ambruk, lima belas juta kehilangan kerja
Tangan-tangan menggapai harga, menggantung di awan sana
Lapar dan sengsara tak pulih dibarut dengan kata-kata
Ibu-ibu berdemo susu bayi di depan hutan yang terbakar kembali
Aku masuk sebuah masjid suatu Jum’at tengah hari
Tak kudengar qunut nazilah dibaca, penolak bala penyeka air mata
Tak kudengar khatib menghibur
Berjuta-juta ummat yang menganggur
Aku mencoba menarik nafas dalam-dalam
Dadaku nyeri, paru-paruku sesak dijepit tulang-dada
Sumpek, mampat, di ruang sempit hampa ukhuwwah
Begini sajalah
Aku ingin kita sama-sama berdoa
Mendoakan khatib-khatib setiap sebelum shalat Jum’at
Di depan gerbang mesjid kita masing-masing
Agar mereka tidak lupa mendoakan penderitaan ummat manusia
Ummat yang jauh, terutama ummat yang dekat
Supaya kita bisa
Supaya aku bisa
Ikut
Mengaminkannya
(Taufik Ismail, “Mendoakan khatib Jum’at agar Mendoakan” dalam buku kumpulan puisi Malu Aku Jadi Orang Indonesia)




Les commentaires récents