السلام عليكم

La paz sea con vosotros,,
Bienvenido a mi blog...

Selamat datang & selamat menikmati weblog pribadi SAIF.
Dengan seadanya, weblog ini kembali hadir setelah lama 'lenyap' dari dunia maya.
Mohon maaf karena sebagian besar arsip sebelum April 2008 & komentar sebelum Juli 2009 tidak bisa ditampilkan kembali.
Saat ini SAIF belum memfokuskan diri kembali untuk blogging, sekedar sambilan saja.
Namun semoga yang tersaji di sini dapat memberi manfaat lebih bagi para pembaca.
Gracias!

 

Apa Salah Sayyid Qutb?

Tuesday, 10 November 2009 sive Leave a comment

Baru-baru ini lantang terdengar usulan untuk melarang buku-buku tulisan Sayyid Qutb. Alasannya, buku-buku inilah yang menyuburkan ideologi ‘terorisme’ di Indonesia. Oleh karenanya, menghentikan cetakannya, distribusinya dan melarangnya adalah sebuah solusi yang dianggap sangat efektif untuk mematikan ideology ‘teror’.

Satu hal yang perlu kita bertanya, apa yang dimaksud dengan ideology terror itu? Apakah ayat dan hadits yang diuraikan oleh ulama mujahid termasuk ideology terror? Kalau memang seperti itu apakah kemudian mereka tega menuduh ayat dan hadist dari Nabi adalah ayat-ayat terror dan hadist terror? Bukankah ini nanti akan mengarah kepada pembunuhan karakter seorang ulama yang mengabdikan dirinya untuk Islam? Dan pada akhirnya berujung kepada tuduhan kepada Nabi kita yang mulia Muhammad SAW, karena ulama adalah pewaris Nabi.

Nampaknya istilah idiologi terror perlu dijelaskan ulang. Karena kalau ini hanya tuduhan tanpa dalil dan hanya dilandasi oleh semangat kebencian pada salah satu kelompok umat islam oleh kelompok umat islam yang lain, maka ini merupakan upaya yang kontraproduktif. Politik adu domba telah mulai disematkan, saling mengadu antar kelompok, dengan isu yang sama terorisme. Sampai sekarang semuanya masih gelap, tak ada pembuktian di depan pengadilan, tapi eksekusi mati telah dilaksanakan. Maka tak urung, fenomena terorisme ini bak bola liar yang menggelinding kemana saja tergantung siapa yang menendangnya. Dan lagi-lagi umat Islam harus menanggung tuduhan atas ini semua.

Ironisnya peristiwa ini bukan malah membuat umat ini maju dan bersatu menghadapinya. Justru ada upaya pemecah belahan, upaya tuduhan sepihak dan vonis tidak sopan dengan menggunakan lidah dan tangan orang yang selama ini memang memiliki masalah dengan saudaranya sendiri. Bukankah upaya ini justru malah menyuburkan kebencian, karena ternyata pola penangannya cenderung destruktif, kejam dan tidak berperikemanusiaan. Mereka tidak hanya menghabisi dari sisi nyawa, tetapi juga dari sisi nama baik, karakter dan pembunuhan citra.

Bidikan ini jelas beralasan. Indonesia yang mayoritas berpenduduk Muslim adalah ancaman terbesar bagi stabilitas peradaban dunia. Berbilangnya ormas yang maju, pendidikan islam yang luar biasa digemari masyarakat, dan animo luar biasa anak muda terhadap perjuangan Islam dan anti-Barat tentu saja mengkhawatirkan pihak-pihak yang tidak suka dengan Islam. Munculnya cendekiawan dan kaum intelektual yang belajar dengan sungguh-sungguh di negeri-negeri kaum muslimin, dan pulang dengan semangat membangun islam yang murni juga bukan berita gembira bagi musuh-musuh islam. Tetapi itu semua tidak lagi bisa dilawan dengan pedang, mortar, atau mesiu ledakan. Tetapi dihabisi dengan skenario besar, sandiwara dan operasi intelejen yang mengagumkan. Persis seperti adegan film thriller Hollywood yang penuh intrik dan konspirasi. Bidikannya hanya satu, melemahkan islam dari segala lini yang dia miliki.

Bila bola tuduhan ideology terror ini tidak segera diluruskan, maka ia tetap saja akan menuduh dan memakan banyak korban. Distorsi opini, penyesatan informasi, bila dilakukan oleh orang pintar dan konon bergelar ulama akan lebih berbahaya dampaknya, daripada dilakukan oleh orang yang bodoh terhadap agamanya.

Apa Salah Buku?
Islam adalah agama yang memiliki tradisi menulis dan membaca yang sangat bagus. Tidaklah mengherankan jikalau para ulama terdahulu mewariskan ilmunya melalui tulisan dan kitab yang bisa dibaca di jaman-jaman setelahnya. Buku-buku itu adalah buah karya pikiran mereka, dari pengkajian yang mendalam, usaha yang tak kenal lelah dan proses yang panjang. Tentu saja di sana penuh dengan kebaikan, kebenaran dan sebuah usaha untuk menjelaskan problematika keummatan dengan bahasa yang gamblang. Namun, karya itu juga bukan sebuah karya sempurna. Kalau lah ada kesalahan sedikit hal itu wajar-wajar saja. Tugas kita sebagai penerusnya adalah meluruskan kesalahan itu bila mampu. Bukan malah dengan membakar dan menghilangkan buku-buku tersebut.

Karena buah pikiran tidak bisa dibendung. Pikiran selalu akan berproses, karena dengan begitu ia hidup. Siapa yang bisa membunuh pikiran orang, menghentikan dia berpikir dan melarangnya berpikir? Tidak ada. Buku pun tidak bisa dilarang, karena ternyata larangan terhadap buku justru memunculkan sebuah rasa penasaran yang hebat. Bukannya malah sepi pembaca, justru buku itu best seller dengan caranya sendiri. Jadi, ideology terror dari buku seperti apa yang kalian maksudkan?

Akar masalah terror adalah perlawanan. Perlawanan terhadap penindasan. Karena umat islam dikenal dengan umat yang memiliki izzah di dunia untuk meraih keberuntungan di akhirat. Di bumi mana saja, umat islam tidak pernah mau dijajah. Maka perlawanan itulah yang kemudian terjadi. Mereka melawan dengan apa yang bisa mereka lawan. Jadi selama ada penindasan di atas muka bumi ini, maka perlawanan itu akan selalu ada, dan tidak akan bisa mati. Namun sayangnya usaha tulus perlawanan ini kemungkinan diboncengi musuh Islam untuk melakukan pencitraan buruk dan agenda ghazwul fikr di kalangan umat Islam.

Sudah saatnya umat Islam menyadari ancaman ‘boncengan’ ini. Bersatu tegakkan barisan, bukan malah saling tuduh dan mencaci maki antar saudaranya sendiri. Selain itu memalukan, juga hanya akan menghinakan pelakunya sendiri. Tak dapat apa-apa, ditinggalkan teman dan saudara. Jangan mau termakan isu adu domba, karena semua butuh saling paham.

Oleh: Burhan Shodiq

Categories: Deen & Creed

Umar Bin Khattab bertemu Uskup Sophronius

Saturday, 7 November 2009 sive Leave a comment

Berita kedatangan bala bantuan kepada pasukan Muslim yang tengah mengepung kota membuat pasukan dan warga Kristen dan Yahudi yang berdiam di dalam kota menjadi ciut. Mengingat kedudukan Yerusalem sebagai kota suci, sebenarnya pasukan Muslim enggan menumpahkan darah di kota itu. Sementara kaum Kristen yang mempertahankan kota itu juga sadar mereka tidak akan mampu menahan kekuatan pasukan Muslim. Menyadari memperpanjang perlawanan hanya akan menambah penderitaan yang sia-sia bagi penduduk Yerusalem, maka Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius mengajukan perjanjian damai. Permintaan itu disambut baik Panglima Amru bin Ash, sehingga Yerusalem direbut dengan damai tanpa pertumpahan darah setetespun.

Walaupun demikian, Uskup Agung Sophronius menyatakan kota suci itu hanya akan diserahkan ke tangan seorang tokoh yang terbaik di antara kaum Muslimin, yakni Khalifah Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu. Sophronius menghendaki agar Amirul Mukminin tersebut datang ke Yerusalem secara pribadi untuk menerima penyerahan kunci kota suci tersebuit. Biasanya, hal ini akan segera ditolak oleh pasukan yang menang. Namun tidak demikian yang dilakukan oleh pasukan Muslim. Bisa jadi, warga Kristen masih trauma dengan dengan peristiwa direbutnya kota Yerusalem oleh tentara Persia dua dasawarsa sebelumnya di mana pasukan Persia itu melakukan perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan juga penajisan tempat-tempat suci. Walau orang-orang Kristen telah mendengar bahwa perilaku pasukan kaum Muslimin ini sungguh-sungguh berbeda, namun kecemasan akan kejadian dua dasawarsa dahulu masih membekas dengan kuat. Sebab itu mereka ingin jaminan yang lebih kuat dari Amirul Mukminin.

Panglima Abu Ubaidah memahami psikologis penduduk Yerusalem tersebut. Ia segera meneruskan permintaan tersebut kepada Khalifah Umar r.a. yang berada di Madinah. Khalifah Umar segera menggelar rapat Majelis Syuro untuk mendapatkan nasehatnya. Utsman bin Affan menyatakan bahwa Khalifah tidak perlu memenuhi permintaan itu karena pasukan Romawi Timur yang sudah kalah itu tentu akhirnya juga akan menyerahkan diri. Namun Ali bin Abi Thalib berpandangan lain. Menurut Ali, Yerusalem adalah kota yang sama sucinya bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi, dan sehubungan dengan itu, maka akan sangat baik bila penyerahan kota itu diterima sendiri oleh Amirul Mukminin. Kota suci itu adalah kiblat pertama kaum Muslimin, tempat persinggahan perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam pada malam hari ketika beliau ber-isra’ dan dari kota itu pula Rasulullah ber-mi’raj. Kota itu menyaksikan hadirnya para anbiya, seperti Nabi Daud, Nabi Sulaiman, dan Nabi Isa. Umar akhirnya menerima pandangan Ali dan segera berangkat ke Yerusalem. Sebelum berangkat, Umar menugaskan Ali untuk menjalankan fungsi dan tugasnya di Madinah selama dirinya tidak ada.

Kepergian Khalifah Umar hanya ditemani seorang pelayan dan seekor unta yang ditungganginya bergantian. Ketika mendekati Desa Jabiah di mana panglima dan para komandan pasukan Muslim telah menantikannya, kebetulan tiba giliran pelayan untuk menunggang unta tersebut. Pelayan itu menolak dan memohon agar khalifah mau menunggang hewan tersebut. Tapi Umar menolak dan mengatakan bahwa saat itu adalah giliran Umar yang harus berjalan kaki. Begitu sampai di Jabiah, masyarakat menyaksikan suatu pemandangan yang amat ganjilyang belum pernah terjadi, ada pelayan duduk di atas unta sedangkan tuannya berjalan kaki menuntun hewan tunggangannya itu dengan mengenakan pakaian dari bahan kasar yang sangat sederhana. Lusuh dan berdebu, karena telah menempuh perjalanan yang amat jauh.

Di Jabiah, Abu Ubaidah menemui Khalifah Umar. Abu Ubaidah sangat bersahaya, mengenakan pakaian dari bahan yang kasar. Khalifah Umar amat suka bertemu dengannya. Namun ketika bertemu dengan Yazid bin Abu Sofyan, Khalid bin Walid, dan para panglima lainnya yang berpakaian dari bahan yang halus dan bagus, Umar tampak kurang senang karena kemewahan amat mudah menggelincirkan orang ke dalam kecintaan pada dunia.

Kepada Umar, Abu Ubaidah melaporkan kondisi Suriah yang telah dibebaskannya itu dari tangan Romawi Timur. Setelah itu, Umar menerima seorang utusan kaum Kristen dari Yerusalem. Di tempat itulah Perjanjian Aelia (istilah lain Yerusalem) dirumuskan dan akhirnya setelah mencapai kata sepakat ditandatangani. Berdasarkan perjanjian Aelia itulah Khalifah Umar r.a. menjamin keamanan nyawa dan harta benda segenap penduduk Yerusalem, juga keselamatan gereja, dan tempat-tempat suci lainnya. Penduduk Yerusalem juga diwajibkan membayar jizyah bagi yang non-Muslim. Barang siapa yang tidak setuju, dipersilakan meninggalkan kota dengan membawa harta-benda mereka dengan damai. Dalam perjanjian itu ada butir yang merupakan pesanan khusus dari pemimpin Kristen yang berisi dilarangnya kaum Yahudi berada di Yerusalem. Ketentuan khusus ini berangsur-angsur dihapuskan begitu Yerusalem berubah dari kota Kristen jadi kota Muslim.

Perjanjian Aeliasecara garis besar berbunyi: “Inilah perdamaian yang diberikan oleh hamba Allah ‘Umar, Amirul Mukminin, kepada rakyat Aelia: dia menjamin keamanan diri, harta benda, gereja-gereja, salib-salib mereka, yang sakit maupun yang sehat, dan semua aliran agama mereka. Tidak boleh mengganggu gereja mereka baik membongkarnya, mengurangi, maupun menghilangkannya sama sekali, demikian pula tidak boleh memaksa mereka meninggalkan agama mereka, dan tidak boleh mengganggu mereka. Dan tidak boleh bagi penduduk Aelia untuk memberi tempat tinggal kepada orang Yahudi.”

Setelah itu, Umar melanjutkan perjalanannya ke Yerusalem. Lagi-lagi ia berjalan seperti layaknya seorang musafir biasa. Tidak ada pengawal. Ia menunggang seekor kuda yang biasa, dan menolak menukarnya dengan tunggangan yang lebih pantas.

Di pintu gerbang kota Yerusalem, Khalifah Umar disambut Patriarch Yerusalem, Uskup Agung Sophronius, yang didampingi oleh pembesar gereja, pemuka kota, dan para komandan pasukan Muslim. Para penyambut tamu agung itu berpakaian berkilau-kilauan, sedang Umar hanya mengenakan pakaian dari bahan yang kasar dan murah. Sebelumnya, seorang sahabat telah menyarankannya untuk mengganti dengan pakaian yang pantas, namun Umar berkata bahwa dirinya mendapatkan kekuatan dan statusnya berkat iman Islam, bukan dari pakaian yang dikenakannya. Saat Sophronius melihat kesederhanaan Umar, dia menjadi malu dan mengatakan, “Sesungguhnya Islam mengungguli agama-agama manapun.”

Di depan The Holy Sepulchure (Gereja Makam Suci Yesus), Uskup Sophronius menyerahkan kunci kota Yerusalem kepada Khalifa Umar r.a. Setelah itu Umar menyatakan ingin diantar ke suatu tempat untuk menunaikan shalat. Oleh Sophronius, Umar diantar ke dalam gereja tersebut. Umar menolak kehormatan itu sembari mengatakan bahwa dirinya takut hal itu akan menjadi preseden bagi kaum Muslimin generasi berikutnya untuk mengubah gereja-gereja menjadi masjid. Umar lalu dibawa ke tempat di mana Nabi Daud Alaihissalam konon dipercaya shalat dan Umar pun shalat di sana dan diikuti oleh umat Muslim. Ketika orang-orang Romawi Bizantium menyaksikan hal tersebut, mereka dengan kagum berkata, kaum yang begitu taat kepada Tuhan memang sudah sepantasnya ditakdirkan untuk berkuasa. “Saya tidak pernah menyesali menyerahkan kota suci ini, karena saya telah menyerahkannya kepada ummat yang lebih baik …,” ujar Sophronius.

Umar tinggal beberapa hari di Yerusalem. Ia berkesempatan memberi petunjuk dalam menyusun administrasi pemerintahan dan yang lainnya. Umar juga mendirikan sebuah masjid pada suatu bukit di kota suci itu. Masjid ini sekarang disebut sebagai Masjid Umar. Pada upacara pembangunan masjid itu, Bilal r.a. – bekas budak berkulit hitam yang sangat dihormati Khalifah Umar melebihi dirinya – diminta mengumandangkan adzan pertama di bakal tempat masjid yang akan didirikan, sebagaimana adzan yang biasa dilakukannya ketika Rasulullah masih hidup. Setelah Rasulullah saw wafat, Bilal memang tidak mau lagi mengumandangkan adzan. Atas permintaan Umar, Bilal pun melantunkan adzan untuk menandai dimulainya pembangunan Masjid Umar. Saat Bilal mengumandangkan adzan dengan suara yang mendayu-dayu, Umar dan kaum Muslimin meneteskan air mata, teringat saat-saat di mana Rasulullah masih bersama mereka. Ketika suara adzan menyapu bukit dan lembah di Yerusalem, penduduk terpana dan menyadari bahwa suatu era baru telah menyingsing di kota suci tersebut.[]

Dikutip dari Knights Templar Knights of Christ, yang ditulis Rizki Ridyasmara, diterbitkan oleh Pustaka Kautsar, 2006.

Pernyataan sikap FSLDK mengenai dehumanisasi zionis-Israel atas Palestina & umat Islam

Thursday, 29 October 2009 sive Leave a comment

Bismillahir rahmanir rahim…
Sesungguhnya kamu (Bani Israil) akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan kamu pasti akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman kejahatan yang pertama dari kejahatan itu, Kami mendatangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan besar, lalu mereka mencarimu keluar masuk kampung ke seluruh negeri. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”
(QS. Al Israa’ 4-5).

Ahad (25/10/2009) lalu, ratusan pasukan zionis-Israel kembali mengepung & menyerbu masjidil Aqsha, tempat suci umat Islam. Dengan stun grenade (granat kejut), peluru karet & gas air mata mereka menyerang jama’ah, termasuk perempuan dan anak-anak, serta mencegah umat Islam lain untuk memasuki masjid.

Sementara itu kontrol total dan manipulasi yang dilakukan zionis-Israel atas sumber daya air juga telah menyengsarakan masyarakat Palestina, sebagaimana dilaporkan oleh Amnesty International 27 Oktober lalu.

Arogansi zionis-Israel yang selama ini terus meraja lela adalah suatu penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dan oleh karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai kemanusian sebagaimana tercermin dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia, bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, maka tidak selayaknya jika bangsa ini hanya menjadi penonton atas berbagai tragedi yang menimpa saudara-saudaranya di Palestina.

Sebagai manifestasi atas nilai kemanusiaan & keadilan, maka dengan ini FSLDK (Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus) tergerak untuk menyatakan sikap dan menyerukan:

  1. Mengutuk kebijakan rasis-apartheid pemerintah zionis-Israel atas umat Islam & Kristen Palestina, khususnya kebijakan terbaru mengenai:
    a. Pendudukan & penguasaan terhadap masjidil Aqsha dan usaha penghancuran atasnya. Serta;
    b. Diskriminasi berupa pembatasan hak untuk mengakses sumber daya air bagi warga Palestina.
  2. Mendukung perjuangan pembebasan Palestina serta mendesak para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, untuk mengusahakan perdamaian dunia, khususnya untuk Timur Tengah.
  3. Menghimbau kepada seluruh pihak, baik individu maupun lembaga, yang mengakui nilai kemanusiaan untuk terus menyalurkan dukungan material maupun moril serta mendoakan agar bumi Palestina terbebas dari kebiadaban dan kekejian zionis-Israel.

Di tengah isu temporer mengenai terorisme di Indonesia yang disuntikkan media, elit penguasa dan aparat kepada bangsa ini secara massif & terintegrasi, rakyat Indonesia kini diuji kembali solidaritas dan jiwa kemanusiaannya dengan mencuatnya kembali kebengisan & teror zionis-Israel terhadap rakyat Palestina.

Stigma teroris yang dengan analogi generalisasi dicanangkan kepada berbagai kelompok-kelompok Islam tidak pernah layak jika dibandingkan dengan ulah radikal dan arogan teroris sejati bernama zionis, yang telah menebar kebencian dan teror terhadap ras dan agama lain, baik muslim maupun kristen, di Palestina.

Oleh karena itu mari kita tegakkan keadilan dengan mendukung perjuangan saudara-saudara kita di Palestina tanpa membedakan idealisme dan kepercayaan.

Surabaya, 28 Oktober 2009
Ketua Pusat Komunikasi Nasional
Forum Silaturrahim Lembaga Dakwah Kampus

Adistiyar Prayoga

Referensi:
- Amnesty International
- The Palestinian Information Center

PANGLIMA PRANG…

Sunday, 4 October 2009 sive Leave a comment

Panglima Prang – means The Commander – is the Acehnese heroic folksong. Told about the jubilant people welcoming their famous Commander and his soldiers came home after the winning battle.

Allah hai do do da idang
Panglima prang ka troh geureka
Aleh talo aleh pie meunang
Ta jak berijang tasawe kanda

Allah hai do do da idang
Panglima perang sudah datang
Entah kalah atau menang
Datang cepat mengunjungi kanda

Do’a sabe ke Rabbana
Meunang beuna syahid mulia
Ureo malam Allah yang jaga
bek syampoe syak keu po donya

Do’a selalu ke Rabbana
Semoga menang, syahid mulia
Siang dan malam Allah yang jaga
Jangan sampai sombong ke Penguasa Dunia

panglima prang jeh panglima prang katroh geuwo
ngon raja nanggroe ngon raja nanggroe hate lam suka

panglima perang hai panglima perang
sudah tiba
dengan raja negeri
dalam keadaan senang gembira

kru seumangat meukru seumangat
seuot judo dro
cutbang ka neuwo cutbang kaneuwo
seunang ka neuba

semangat.. semangat..
sahut diri
kakanda sudah pulang
membawa kebahagiaan

Alhamdulillah.. alhamdulillah
Tuhan lon pujoe
Beudoh cut beudoh cut putro
Seumah kakanda

Alhamdulillah.. alhamdulillah
segala puji bagi Tuhan
bangunlah adinda
sambut kakanda

Read more…

Categories: Songs

Epigrafi Ramadhan-Syawal

Saturday, 19 September 2009 sive Leave a comment

ramadhanku kini tlah pergi,
sungguh memberiku impresi,
dan aku sadar inilah destinasi…

meski aku bukan klerikus,
tp aku berharap tulus…

smoga kebersamaan dengannya merupakan dekreolisasi atas dosa-dosa kita.
smoga kepergiannya bukan merupakan deregulasi dan reinterpretasi (apalagi antikonsepsi) atas premis baik-buruk.

mari kita meng-alimentasi & meng-agregasi amalan dan terus men-depresiasi & meng-abolisi kesalahan.

syawal bukanlah wujud diskresi sebebas-bebasnya, melainkan saat untuk melepaskan heteronomi kita atas dosa, serta momen akan akumulasi dan aktualisasi atas iman-ilmu-amal.
mari berintrospeksi, bukan hanya berselebrasi.
maka selayaknya kita bertanya, “benarkah kita termasuk orang-orang yg menang?”

terlepas dari itu,
terimalah maafku sebagai seorang hamba yg penuh dengan alpha-adinamia-apraksia.

Kudus, 19 September 2009 at 8:51pm

Categories: masterpiece

Stop Anti-Malaysia!

Wednesday, 2 September 2009 sive 8 comments

petronas

COPAS dari MILIST bozz….

Hanya ingin menampilkan sisi lain dari Malaysia…. Karena sudah terlalu banyak kita berteriak-teriak anti Malaysia dan sebagainya.. Semoga postingan ini bisa sedikit membuat kita lebih “cool” dalam menyikapi pemberitaan di media tentang negara tetangga kita… Selamat membaca!!

Tolong stop anti-malaysia!

Jangan salah sangka dulu, saya sendiri orang indonesia. Saya malu sekaligus sedih dengan persengketaa orang-orang indonesia terhadap yang pikirannya agak dangkal, tapi orang indonesia harus tau ini. Orang indonesia telah dikenal sebagai orang yang aggresiv dan brutal ketika telah berbicara di forum, sering mengeluarkan kata-kata kasar yang merusak nama baik bangsa indonesia sendiri. Maling, anjing, fuck atau apa pun.

Read more…

Categories: Politikana

Terorisme, Jihad & Kemerdekaan

Tuesday, 1 September 2009 sive Leave a comment

war

Judul asli: ‘Utang Indonesia Pada Umat Islam’
Oleh Herry Nurdi (Penulis, Wartawan Islam)
Dimuat di Republika 28/08/2009

Perkembangan penyelesaian masalah terorisme di Indonesia, menuju arah yang sangat tidak kondusif bagi kaum Muslimin di negeri ini. Berbagai pernyataan dan statement yang dilontarkan oleh beberapa pihak, baik secara resmi atau selentingan, telah melahirkan dampak yang sangat serius bagi gerakan dakwah di negeri ini. Tentu saja perkembangan ini harus dikawal dalam koridor yang benar agar tak menimbulkan keresahan baru yang bernama kecurigaan komunal.

Read more…

Faith Freedom (Imitasi)

Wednesday, 26 August 2009 sive Leave a comment

Faith Freedom Indonesia/International (FFI)… dari namanya seolah memperjuangkan kebebasan beragama, tapi sebenarnya itu cuma kedok. Setelah kita masuk ke dalamnya, pasti tau, isinya diskreditasi terhadap Islam.

Di samping FFI, ada website serupa yang menjadi wadah counter bagi teman-teman muslim untuk mengklarifikasi segala fitnah FFI, alamatnya answering-ff.org

Sudah lama aku tak mendengar kabar FFI, karena beberapa bulan lalu domain website FFI diblokir. Kini rupanya FFI kembali bangkit & berulah.

Read more…

Sapto Waluyo: PKS dan Isu Terorisme

Wednesday, 26 August 2009 sive Leave a comment

pksIsu terorisme kini menjadi bola panas dan secara liar menyerempet berbagai kelompok sosial-politik. Dan, ketika bom meledak di dua hotel prestisius, J.W. Marriott dan Ritz Carlton, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menengarai adanya kelompok yang tidak puas dengan hasil pemilihan presiden. Mereka yang bermaksud mengepung gedung KPU saat rekapitulasi suara, menggagalkan pelantikan presiden baru, dan menjadikan Indonesia seperti Iran yang rusuh pasca pemilu.

Dengan mimik serius, SBY memperlihatkan foto yang menggambarkan dirinya sedang menjadi sasaran latihan tembak para teroris. Kemudian, Kepala Polri menjelaskan bahwa latihan itu dilakukan di daerah Kalimantan Timur dan pelakunya sudah tertangkap dua bulan sebelum peledakan di Marriott-Ritz Carlton. Polisi juga mengungkap jaringan teroris di Jatiasih, Bekasi yang bermaksud melakukan penyerangan di rumah kediaman SBY di Cikeas, tepat pada hari kemerdekaan RI.

Karuan saja, sinyalemen itu mengundang reaksi dari lawan politik SBY, Megawati Soekarnoputeri dan Jusuf Kalla, yang menegaskan partai politik yang komitmen dalam proses demokrasi tak akan pernah menempuh jalan kekerasan. Pemerintah diminta fokus untuk membongkar sumber terorisme, jangan menyinggung lawan politik yang bersikap kritis. Kandidat wakil presiden dari kubu Mega, yakni Prabowo Subianto, juga bereaksi tegas, karena tak bisa menerima istilah “drakula politik” yang pernah melakukan penculikan dan kekerasan politik di masa lalu.

Read more…

M TOP’s Guises…

Tuesday, 25 August 2009 sive 1 comment
Categories: Politikana